Internal Control

Internal Control

oleh: H. Iskandar Zulkarnain

Beberapa waktu yang lalu mejelis taklim kami kedatangan seorang ulama, dari salah satu nasehatnya kami ketahui bahwa timbulnya Nasehat Enam Tobiat Luhur ternyata idenya dari UB, wow keren…. ternyata UB juga jadi sumber inspirasi nich…..

Jangan bangga dulu kawan……ternyata nasehat tersebut timbul karena dianalisa kegagalan UB karena ketidak jujuran dan ketidak amanahan person person yang berkecimpung di UB, baik mulai pelaksananya, bendaharanya maupun ketuanya.

Dari pengalaman saya berkecimpung di UB dari tahun 1999 diberbagai daerah, antara lain Pekanbaru, Semarang, dan Jakarta ternyata kejadian tersebut ditemui disetiap UB yang saya urusi, di semua tingkat dapuan di UB. Kalao kita mau bertanya, sebenarnya apa yang salah dengan UB tersebut, apakah yang didapuk dari awal memang orang yang seneng sluman slumun, atau yang didapuk kurang pengetahuan administrasi nya atau sebab lain….padahal kalo dilihat latarbelakangnya ya ada yang mubalegh, pengusaha yang aghnia’, guru dsb…

Dari kejadian tersebut sebenarnya karena kurangnya pengetahuan kita dalam membangun suatu usaha yang bersifat public / dimiliki oleh banyak orang. Ada aturan main yang dilanggar, yaitu tidak adanya pengawasan terhadap kegiatan usaha tersebut. Sebagai mana kita ketahui bahwa Suatu kejahatan biasanya bukan dimulai dari niat pelaku tapi karena ada peluang dan kesempatan.

Uraian tersebut berhubungan dengan judul tulisan ini yaitu “ Internal Control”, Dalam Struktur UB terdapat dapuan UB yaitu TPUB, TPUB ini bukan komponen yang dimaksud, tapi merupakan external control, lalu apa yang dimaksud dengan Internal control?

Internal Control merupakan sistem yang dibuat dengan menempatkan fungsi fungsi yang berbeda kepada jabatan yang berbeda dan orang yang berbeda sehingga saling mengawasi satu sama lain.

Mungkin lebih sederhana dengan contoh toko sembako, Belanja barang dilakukan sesuai laporan dari pelaksana kepada manager / petugas pengadaan, sedangkan barang yang dibeli diterima dan diceck dengan petugas yang berbeda, demikian juga bukti pembayaran diserahkan ke bagian pembukuan setelah proses pengecekan barang selesai dilakukan. Disini kita lihat ada tiga pihak yang terlibat, yang bisa saling mengawasi, apakah belanja telah sesuai dengan kebutuhan, barang yang dibeli benar benar ada dsb.

Fenomena yang sering terjadi di UB (pengalaman UB sesungguhnya sebelum dibentuk internal control) ada dua pegawai yang saling berebut untuk belanja barang, setelah di selidiki ternya mereka mengharapkan bonus bonus tertentu dari suplier yang diperoleh secara tidak langsung saat itu. Atau paling parah yaitu barang yang dibeli tidak sesuai dengan uang yang keluar.

Contoh lain, ketua UB ditunjuk karena dia seorang pengusaha dan dianggap mampu untuk mengembangkan UB, lalu karena tidak ada internal control atas uang, ketua tersebut menggunakan uang tersebut untuk usahanya atau nomboki biaya biaya usahanya sendiri, dengan niat “dipinjam dulu”. lalu karena keenakan, disusul pinjaman pinjaman selanjutnya sehingga setelah modal habis tinggal nunggu terungkap saja.

Ada juga contoh salah satu UB, karena bendahara UB pindah lalu akhirnya dirangkap manager UB menjadi bendahara / wakil bendahara, walaupun jabatannya berbeda tapi orang nya sama ya bisa ditebak hasil akhirnya…

Sebenarnya tanda tanda lainnya suatu usaha yang tidak bisa sehat bisa terbaca dengan istilah “Single Fighter“, kalo ada UB dengan kepengurusan single fighter tersebut, ya siap siap aja…

Lalu kalo memang terjadi hal yang tidak diinginkan, siapa yang bertanggung jawab? Apakah pelaksananya?, manager UB nya?, Bendahara UB? Atau ketua UB?, kalo saya boleh menjawab, SEMUANYA, temasuk K**de, TPUB Daerah, ya juga K**da nya, karena di struktur UB, sudah ada dapuan masing masing untuk mengawasi UB tapi tidak dilaksanakan, atau tidak sanggup melaksanakan.

Diluar internal kontrol yang tidak dibangun dengan baik tersebut terdapat satu kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan UB yaitu merekrut tenaga kerja yang dibebani tugas full time tapi tidak memperhitungkan kesejahteraannya, sebagai gambaran, UB masih skala kecil tidak mampu menggaji di atas UMR, lalu merekrut salah satu jm yang anaknya banyak karena faktor Cuma dia yang ada waktu nganggur. Nah kondisi ini tidak diperhatikan, bahwa seseorang itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, disini terdapat peluang untuk pelanggaran menggunakan asset UB untuk keperluan keluarga yang tidak tecukupi dengan ukhro yang diberikan.

Demikian pula dalam merekrut Bendahara UB, hendaknya latar belakangnya disesuaikan juga dengan kriteria KU (bendahara), yaitu mampu mencatat, kehidupan ekonominya cukup, kepahamannya juga disaksikan baik, demikian halnya dengan pengurus UB yang lainnya.

Dalam proses pemeriksaan oleh TPUB sebagai pemeriksa external, Penilaian atas internal kontrol ini merupakan penilain yang pertama kali harus dilakukan, karena tingkat kebenaran suatu pembukuan dimulai dengan penilaian internal kontrol, baru pemeriksaan atas pembukuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *