Sekilas Tentang Saham dan Permasalahannya (Bag. 1)

Sekilas Tentang Saham dan Permasalahannya (Bag. 1)

oleh: H. Iskandar Zulkarnain

Kalau dilihat dari segi bahasa, kata saham dapat dipersamakan dengan istilah Andil, Bagian, Kontribusi dan sebagainya. Kalau pengertian kepemilikan saham, dapat diartikan sebagai kepemilikan perusahaan yang menerbitkan saham, tapi bukan dinilai dari berapa nilai nominal nilai saham tersebut atau berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli saham tersebut, Istilah saham lebih mudah diterangkan dengan kata “Andil” yaitu seberapa banyak seseorang memiliki bagian atau berapa persen saham yang dimilikinya dibandingkan dengan keseluruhan saham yang terbit.

Dengan demikian tingkat kepemilikan saham berbanding lurus dengan kekuasaan seseorang terhadap suatu perusahaan karena sesuai hukum ekonomi, kekuasaan tertinggi terletak pada RUPS jadi kalau seseorang memiliki saham 50% +1 maka dialah yang mutlak berkuasa karena merupakan mayoritas pemilik saham, dan bisa menetukan kebijakan perusahaan seperti penentuan direksi, pengembangan usaha, pembagian laba dsb.

Kondisi di UB

Dalam petunjuk membuat AD / ART terdapat ketentuan “Setiap anggota UB mempunyai satu suara dalam MPPS tanpa melihat besar kecilnya kepemilikan saham dalam UB”. Ketentuan ini perlu kita cermati dari sisi pemegang saham. Seseorang yang menanam besar modal di suatu usaha secara otomatis kalau usaha tersebut untung akan menikmati keuntungan sebanding dengan besar modalnya, akan tetapi dia juga paling beresiko mengalami kerugian pasing besar apabila usaha tersebut rugi.

Dengan kondisi dia tidak memiliki hak suara yang adil, seseorang tentunya berpikir ulang untuk menyerahkan hartanya untuk dikelola oleh orang lain yang menurut dia tidak profesional, akhirnya terbentuklah kondisi UB hanya jadi ajang ketaatan saja, satu satunya anggota harus memiliki saham UB, ya… beli satu lembar saja cudah cukup untuk menggugurkan kewajiban.

Kalau ketentuan tersebut didasarkan bahwa nantinya akan ada “kapitalisme” dalam UB, tentunya anggapan itu terlalu berlebihan, karena pada dasarnya kalau seseorang menanamkan modalnya tentu akan berharap keuntungan juga dan bagi pemilik modal kecil akan “nunut mulyo”.

Hal ini perlu jadi perhatian dari seluruh jajaran pengurus diatas, janganlah tulisan ini dianggap sebagai resolusi, dianggap tidak taat, tapi bagi kami, timbul pertanyaan yang mendasar, bagaimana kita bisa mewujudkan cita cita untuk menyaingi lembaga dunia semacam IMF, sedangkan kita tidak mengikuti perkembangan jaman.

Mudah mudahan masukan ini dapat respon positif dari yang berwenang

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *