Standarisasi Laporan Keuangan UB

Standarisasi Laporan Keuangan UB

oleh: H. Iskandar Zulkarnain

Suatu laporan keuangan dibuat tentunya dengan maksud untuk memberikan informasi tentang suatu kegiatan usaha yang digunakan untuk berbagai pihak terkait dengan usaha tersebut. Pihak pihak yang terkait tersebut antara lain, Pengurus UB, Pengawas UB, Pemegang saham UB serta pihak ketiga yang umumnya berupa investor atau kreditor yang akan bekerja sama dengan UB.

Standar yang digunakan sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia PSAK serta pertaturan perpajakan sehingga dasar pembukuan tidak ada bedanya dengan perusahaan umum dan kalau ada perdebatan pendapatan lebih mudah dicarikan jalan keluarnya.

Bentuk pembukuan sangat tergantung dengan jenis usaha uang dilakukan sehingga terdapat berbagai macam variasi laporan yang berbeda antar masing masing usaha, baik jumlah/ jenis akun metode pengakuan pendapatan, metode pengakuan biaya, pembebanan kerugian, bagi hasil dan lain sebagainya.

Pada prinsipnya pembukuan dibuat “ Taylor Made “ yaitu ibarat tukang jahit pakaian, dibuat sesuai denganukuran tubuh pemesan, demikian juga pembukuan dibuat sesuai kebutuhan pengguna pembukuan tanpa meninggalkan kaidah akuntansi yang berlaku.

Tahap awal pembuatan pembukuan

Hal pertama yang dibuat dalam membuat pembukuan yaitu melakukan inventarisasi seluruh nilai aktiva UB mulai dari yang paling liquid berupa kas, Bank, Persediaan, Piutang sampai dengan aktiva lain lain dan dilanjutkan dengan sisi Pasiva mulai dari Utang lancar, utang tidak lancar sampai dengan modal saham. Semua itu harus dikerjakan dalam suatu waktu yang ditentukan, biasanya saat tutup buku.

Seluruh perhitungan tersebut harus didukung dengan bukti yang memadai untuk pencatatan tiap akun, contohnya untuk Kas. Harus dilakukan pembuatan berita acara Stock opname kas yang harus disaksikan pengawas UB, atau perhitungan piutang, harus dijadikan lampiran dalam laporan UB dan sesuai dengan kartu piutang. Semua bukti pendukung tersebut harus dijadikan Kertas Kerja sehingga setiap pelaporan akun dilaporan selalu didukung dengan bukti dan disaksikan oleh Pengawas UB.

Untuk menyederhanakan apa yang akan saya sampaikan, berikut ini sy kirimkan atachment contoh laporan keuangan berupa Neraca dan Laba rugi, angka tersebut merupakan angka real yang menunjukan kinerja salah satu UB kita, Silakan bertanya, memberi komentar, memberi kritik, memberi masukan supaya komunikasi menjadi dua arah.

Namun sebelumnya sy coba menjelaskan beberapa hal yang menjadi dasar pemikiran pembuatan laporan keuangan tersebut.

1. Laporan keuangan dimulai dari menyusun neraca sesuai dengan urutan tingkat liquiditas, mulai dari kas sampai saham.

2. Dalam pelaporan baik neraca maupun Rugi laba ditampilkan dalam komparasi informasi tahun sekarang dan tahun sebelumnya tanpa merubah angka dan akun yang telah dilaporkan tahun sebelumnya sehingga kalau ada perubahan untuk tahun berjalan maka terlihat perbandingan akun sumbernya.

3. Penetapan angka angka yang tertera dalam laporan keuangan harus dilakukan dalam suatu waktu yang ditetapkan, Walaupun secara umum neraca ditutup pada tgl 31 Desember tahun berjalan namun kalu kondisi tidak memungkinkan dapat saya dilakukan beberapa saat sesudah ataupun sebelum tangal yang bersangkuan, tapi harus serentak di setiap akun.

4. Agar tiap tiap akun diyakini kebenaran angka yang dilaporkan maka diperlukan penjelasan – penjelasan dan bukti bukti pendukung untuk meyakinkan semua pihak ang membaca laporan tersebut. antara lain:

a. Kas / dan setara Kas-bank.

Bukti pendukung yang dimaksud adalah berupa stock opnam yang didukung dengan membuat berita acara yang ditandatangani oleh petugas penghitung dan disaksikan oleh pengawas UB. Setara kas yang dimaksud adalah bank, harus dicatat sesuai dengan
tanggal tutup buku tsb.

b. Persediaan.

Dalam pencatatan persediaan terdapat tiga metode pencatatan yaitu FIFO, (first in first out), LIFO (last in first out) dan average (rata – rata) dari ketiga metode tersebut yang akan kita bahas hanyalah yang FIFO saja karena dengan sistem ini maka nilai barang yang tersisa mencerminkan keadaan paling mendekat nilai sekarang, tapi bukan berarti dua metode lainnya tidak ada fungsinya, tetapi menyederhanakan topik sesuai yang dihadapi UB yang umumnya bergerak di bidang sembako maka metode FIFO lahyang paling pas untuk dilaksanakan.

pencatatan persediaan yang lengkap sebenarnya harus dilaksanakan dengan mencatat arus barang melalui kartu persediaan yang dulu dilakukan dengan menggunakan kartu yang dicatat secara manual, seiring dengan bertambahnya volume pencatatan maka keberadaan kartu sudah mulai ditinggalkan dan digantikan dengan progran inventory.

Program tersebut menyatu dengan program penjualan yang dilakukan dengan secara otomasi yang biasanya menggunakan barcode sehingga setiap penjualan akan otomatis mengurangi persediaan.

Dengan sistem pencatatan dengan program sales dan inventory ini sebenarnya banyak manfaat yang diperoleh, tetapi dalam pelaksanaannya dibutuhkan juga SDM yang handal dalam pelaksanaannya dan bisa mengatasi permasalahan yang timbul dalam operasionalnya dan harus disiapkan sistem pencatatatan secara manualnya apabila ada trouble dalam pengoperasian software tersebut.

Untuk pengawasan inventory akhir dengan adanya pencatatan hasil otomasi tersebut diperoleh nilai persediaan akhir sesuai sistem, apabila kita melakukan pengujian dengan melakukan stock opname atas persediaan tersebut maka secara ideal seharunya tidak ada selisih antara sistem dan stock opname inventory secara manual.

Dalam praktek sehari hari kondisi ideal tersebut akan sulit ditemukan hal tersebut bisa terjadi karena masalah kerusakan barang, pengutilan atau sebab sebab lainnya. hal ini patut dipelajari dari waktu ke waktu sehingga dari pengurus UB bisa menyimpulkan suatu selisih tersebut karena suatu kejadianyang wajar ( kerusakan barang ) atau tidak Wajar ( mengutilan, mis management/kecurangan )

Yang perlu diperhatikan adalah pencatatan dilakukan dengan nilai pembelian, UB sudah terdaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak maka nilai tersebut harus excluded PPN. (adakah UB kita yang sudah PKP?)

Kondisi di UB kita.

Kita menyadari adanya keterbatasan SDM dalam pegelolaan operasional UB / Pelaksana UB, sehingga dengan SDM yang terbatas tersebut mau tak mau kita harus memaksimalkan mutu laporan keuangan yang kita sajikan.

Pengawasan bisa dilakukan dengan melakukan pengawasan stock opname atas persediaan tersebut sehingga nilai yang ditampilkan benar benar mencerminkan keadaan sebenarnya akan tetapi kita tidak dapat menilai kinerja dari pelaksana UB akan keselamatan dari barang dagangan UB, dalam kata lain kalau ada kejadian kejadian seperti, kerusakan, pengutilan atau kecurangan dari pelaksana UB tidak dapat dideteksi.

untuk tidak menjadikan tendesius apa apa dalam hal ini kita berdiskusi sebagai pengurus UB yang juga bertindak sebagai pengawas UB, jadi bukan karena suudzon terhadap pelaksana UB tapi, pencegahan terhadap pelanggaran.

ajkk

bersambung……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *